Tradisi sungkeman tidak terlalu mendarahdaging di keluarga kami. Hanya bila bersama keluarga besar kami melakukannya. Sehingga saya tidak terlalu ahli melakukan ritual sungkeman ini.
Menurut ibu saya ada posisi kaki, posisi tangan, posisi kepala, posisi hidung tertentu dan ada beberapa tahapan gerakan yang harus dilakukan saat sungkeman. Posisi posisi itu sebenarnya tidak terlalu rumit, hanya saja memang perlu kesabaran luar biasa saat melakukannya karena antrian tidak sedikit, kecuali hanya 2-4 orang yang sungkeman. ;)
Hari ini, di hari lebaran ketiga, kami melakukan tradisi sungkeman di rumah nenek saya, yaitu nenek buyut Jco (mbah uti). Mbah uti duduk di kursi sedangkan anak anak, cucu dan cicit berbaris mengikuti urutan usia, antri sungkeman. Saya dan Jco agak di paling belakang, saat saya sedang sibuk berpikir bagaimana cara sungkeman yang tepat sewaktu sungkem pada anak tertua mbah (pakde saya), Jco sedang sungkem pada mbah uti dengan caranya, yaitu dengan memeluk mbah. Jco terus melakukan itu pada seluruh anggota keluarga dari awal sampai akhir.
Saat itu saya sadar inti sungkeman adalah kasih sayang yang tulus. Kalau ngga bisa sungkeman a la jaman dulu boleh lah sungkeman a la Jco, yang penting tulus ;)




No comments:
Post a Comment